• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Slide # 1

    Slide # 1

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 2

    Slide # 2

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 3

    Slide # 3

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 4

    Slide # 4

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 5

    Slide # 5

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

     
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Kita dan Sekitar

    Kami adalah keluarga kecil yang tinggal di kota Bandung, namun sering sekali kami mengunjungi orang tua kami di Garut, sehingga Garut is our second home. Alasan kami sering ka Garut bukan hanya karena menjenguk orang tua saja, tapi untuk perkembangan buah hati kami tercinta.

    Lama hidup di kota besar dan dipemukiman komplek perumahan modern ternyata membuat kami sadar bahwa kehidupan seperti ini bukanlah kehidupan yang kami harapkan. Kami memang bertetangga, namun, karena lokasi rumah tepat di ujung komplek dan berbatasan dengan benteng, sulit bagi kami bertemu dengan yang disebut tetangga, karena banyak rumah disekeliling yang tanpa penghuni.

    Berbeda dengan di Garut, di rumah mertua tepatnya di kampung Sagaranteun. Setiap pagi, selepas ayam pagi berkokok, burung merpati mulai lalang, dan itulah waktunya dimulai manusia berlalu lalang. Ibu-ibu menenteng ember penuh cucian ke arah situ (danau kampung), bapak-bapak hilir mudik ada yang membawa pacul, motor, atau golok dan berjalan menuju beberapa arah ke sawah, ke gunung atau ke jalan besar. Anak-anak sd luar biasa banyaknya, sepanjang mata memandang, selalu saja ada anak kecil, dengan muka bantal sudah nongkrong dipinggir gang memanggil-manggil ibu nya minta beli gorengan.

    Debay sangat suka setiap dibawa ke Sagaranteun, banyak teman main, ada yang bisa diajak balapan dan banyak yang menyapa. Malah pernah kami tinggal 3 minggu di kampung, tapi, alhamdulillah debay malah kelihatan lebih gembira dibanding dengan tinggal di Bandung. Melihat keceriaan debay di Garut, membuat kami berfikir apa kita pindah saja ke Garut yah. Dan alhamdulillah, rencana menuju pindahnya ke Garut semakin hari semakin dekat, beberapa bulan lagi kami akan tinggal menetap disini.

    Saya sendiri berfikir, apa tujuan saya selama ini berkarir sebagai dosen? apakah memang karena passion? panggilan hati mendidik anak bangsa? karir? atau penghasilan semata???

    Lama saya berfikir (beberapa minggu) hingga pada akhirnya saya menyadari bahwa saya sangat mencintai pekerjaan ini, mengajar adalah kebahagiaan saya. Harusnya kalau memang ini panggilan hati, saya akan senang mengajar dimana saja, kapan saja. Berkarya mendidik anak bangga, membangun generasi masa depan dengan penuh cinta dan kasih sayang adalah kesenangan dan kebahagiaan saya. Yang artinya, tak masalah kalau saya harus pindah ke Garut juga, saya masih akan bisa mengajar dimana saja ditempat saya dibutuhkan.

    Anak senang, saya senang, kami sekeluarga juga senang…

    Insya Allah…

    Membumi dengan prestasi, mengangkasa dengan manfaat…dimana saja…di bumi Allah

     

    Leave a Reply