• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Slide # 1

    Slide # 1

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 2

    Slide # 2

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 3

    Slide # 3

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 4

    Slide # 4

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 5

    Slide # 5

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

     
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Berlibur di Kampung Sagaranten Garut

    Kampung sagaranteun terletak di Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut. Namun karena lokasinya juga dekat dengan kecamatan Cibatu, banyak yang menyangka desa ini masuk didalamnya. Daerah yang terkenal disekitarnya antara lain Pasir Jengkol dan Sukasono, jadi kalau kesulitan cari di GPS, set dulu aja “pasir jengkol” gak jauh dari sana (kurleb 2 km) bisa ketemu lah.

    Secara umum, kampung ini kecil namun super padat dan penduduk berkumpul disepanjang jalan (gang) yang menurun dari atas jalan batu hingga ke situ (danau). Mata pencaharian penduduk disana tidak banyak ragamnya, sebut saja bertani di sawah, buruh tani, pemanen jamur di gunung, pengrajin bilik, guru, guru ngaji, PNS (jarang). Sebagian lagi memilih kerja di luar daerah, dan yang unik ada ke khasan pekerjaan yang berasal dari desa ini selain bikin bilik, yaitu jadi tukang sol sepatu dan jam tangan keliling. Saya tinggal di Bandung dan semua tukang jam keliling di komplek Pesona Bali berasal dari Garut. Setiap hari mereka pulang-pergi loh, berangkat abis subuh nyampe bandung jam 7, dan kembali jam 11 atau 12 siang. Singkat waktu kerjanya, sedapatnya saja, kalau gak dapat ya pulang dan berharap besok dapat. Ongkos pulang-pergi mereka kalau tidak salah 30 ribu. Let’s say mereka dapat 3 pelanggan dan rata2 bayar 30 ribu, jadi kembali ke rumah bawa uang 60 ribu. Beda cerita kalo mereka get lucky dapat jual jam yang agak mahal.

    Tipikal daerah pedesaan adalah udara yang sejuk, bunyi ayam berkokok di pagi hari, kukukan rombongan merpati diatas genteng saat fajar, aktivitas padat orang dipagi hari namun bersantai saat siang, ramah tamah tetangga atau gosip-gosip tetangga di warung sayur, pemandangan orang cuci baju, cuci piring, BAB, mandi di sungai, bertani..semua aktivitas itu isa kalian lihat setiap harinya di Sagaranten. Bahkan tak jarang berita orang berkelahi antar desa saat pertandingan bola atau cerita percekcokan dalam politik. Semuanya menyenangkan, jauh dari kesibukan indivualisme di kota Besar.

    Daerah ini juga pernah dihebohkan media, karena tiba-tiba muncul mata air panas beragam suhu yang dipercaya mengobati banyak orang. Bulan-bulan awal, banyak sekali orang-orang berbondong ke SS (nama tempatnya) dan tidak jarang orang datang dari luar kota karena dapat informasi dari TV.  Namun sayang, ketenarannya redup dalam waktu singkat, untungnya hasil dari sumbangan pengunjung dimanfaatkan warga gotong-royong memperbaiki jalan, namun banyak yang kecewa karena sudah berinvest buka warung disaat pengunjung terus menurun jumlahnya.

    Yuk cekidot video di bawah ini:

     

    Ini versi lain (tempat tinggal bi neno, pengasuh anak saya)

    Leave a Reply