• Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Slide # 1

    Slide # 1

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 2

    Slide # 2

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 3

    Slide # 3

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 4

    Slide # 4

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

    Slide # 5

    Slide # 5

    Far far away, behind the word mountains, far from the countries Vokalia and Consonantia, there live the blind texts Read More

     
  • Student Affairs
  • Grants and Awards
  • Analisis Drama Theory Pada Film Joy

    ANALISIS DILEMA KONFLIK MENGGUNAKAN PENDEKATAN DRAMA THEORY (STUDI KASUS PADA KONFLIK PRODUK ALAT PEL MIRACLE POP OLEH JOY MANGANO DALAM FILM JOY)

    Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis dilema yang terjadi pada kasus produk alat pel Miracle Pop hasil temuan Joy Mangano dalam film berjudul Joy dan menganalisis tindakan yang bisa dilakukan untuk meminimalisir dilema.

    Konflik yang dianalisis dalam penelitian ini hanya difokuskan atau dilakukan pada beberapa scene saja di dalam film, analisis dilema pada konflik tidak dilakukan pada keseluruhan alur cerita film, adapun scene yang akan dianalisis akan dijelaskan sebagai berikut :

    Joy Mangano seorang Ibu singgle parent bercerai dengan suaminya berusaha untuk menghidupi keluarga dan anakanaknya bekerja sebagai pegawai biasa namum beliau memiliki bakat semenjak kecil menciptakan dan membuat produk. Ia menciptakan inovasi baru pada peralatan rumah tangga berupa alat pel yang dapat diperas tanpa harus disentuh ia beri nama Miracle Pop.

    Joy merasa bahwa penemuannya tersebut akan banyak membantu orang sehingga ia memiliki keinginan untuk mengembangkan dan memasarkan produk temuannya tersebut sebagai bisnis barunya. Ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaanya dan memulai hidup baru sebagai seorang pebisnis, mendapat pinjaman modal dari ayahnya dan pacar ayahnya yang baru Joy mulai merintis bisnis kain pel yang ia temukan. Dalam upaya mewujudkan prototype atau sampel produk sekaligus memproduksi alat pelnya, Joy menjalin kerjasama dengan sebuah pabrikĀ plastik di california untuk membuatkan alat pel temuannya tersebut.

    Pada awal kerjasamanya Joy mengirimkan desain produk hasil temuannya untuk dibuatkan prototypenya di pabrik, pihak pabrik menyatakan bahwa desain produk yang Joy berikan memiliki kesamaan dengan desain produk yang telah dipatenkan oleh pihak pabrik sebelumnya. Untuk setiap pembuatan satu buah produk, pabrik meminta Joy membayar royalti atas hak paten yang dimiliki pabrik atas kesamaan desain produk Joy. Joy setuju dan menyanggupi untuk membayar semua biaya produksi yang diminta oleh pihak pabrik, dan pabrik pun setuju untuk memproduksi alat pel Joy sesuai dengan permintaaan yang diminta oleh Joy.

    Joy mengalami kesulitan luar biasa dalam memasarkan produk pelnya tersebut, respon positif tidak ditunjukan pasar ia sulit mendapatkan pelanggan. Akhirnya Joy dipertemukan dengan perusahaan QVC yang merupakan perusahaan pemasar bergerak lewat pemasaran pada channel TV Home Shopping.

    Joy memperagakan bagaimana produk termuannya berfungsi, setelah melewati proses negosiasi yang sulit maka akhirnya perusahaan QVCpun mau untuk membantu Joy dalam memasarkan produknya dengan syarat Joy harus tetap menjadi teman atau partner bisnis jika ia berhasil dengan hasil temuannya tersebut dan Joy mampu memproduksi alat pelnya sebanyak apapun sesuai dengan jumlah permintaan yang mungkin terjadi pada iklan produknya di channel Home Shopping QVC.

    Tidak disangka ketika Joy sendiri yang memperagakan alat pelnya dan tampil di depan TV sebagai pemasar, produk pelnya mendapatkan permintaan luar biasa dengan jumlah permintaan yang sangat mencengangkan. Konflik barupun timbul, pihak pabrik dengan seketika menaikan harga produksi untuk setiap produk pelnya dengan alasan kenaikan harga bahan baku ketika Joy harus memenuhi permintaan yang sangat banyak.

    Joy mengalami kebingungan untuk membayar biaya dengan angka yang sangat tinggi sampai ia harus menggadaikan rumah yang ia tinggali bersama ibu dan ketiga anaknya untuk membayar uang yang diminta pabrik. Joy sebenarnya belum setuju dengan kenaikan biaya tersebut dan menunda urusan bisnisnya karena nenek yg ia sangat sayangi meninggal dunia dan harus melakukan pemakaman, namun adik tirinya Peggy dengan lancang mengatasnamakan perusahaan Joy membayarkan tambahan biaya yang sangat tinggi yang diminta oleh pabrik tersebut.

    Joy yang tidak terima dengan tindakan adik tirinya dan kenaikan biaya yang sangat tinggi tersebut akhirnya memutuskan untuk datang langsung ke pabrik mencoba melakukan negosiasi agar biaya produksi tidak jadi dinaikan oleh pabrik dan Joy dapat medapatkan uangnya yang telah dibayarkan kembali. Namun ketika Joy datang ke pabrik tersebut ia mendapati kenyataan bahwa selama ini tidak pernah ada hak paten yang dimiliki oleh pabrik atas kesamaan desain produk kain pelnya dan pabrik tersebut sedang memproduksi alat pel dengan desain temuan Joy secara massal.

    Joy yang geram dengan tindakan pabrik plastik tersebut ingin melaporkan tindak kecurangan pabrik pada pihak yang berwajib, namun dengan saran dan usul dari pengacaranya, Joy tidak akan mampu melawan pabrik tersebut dengan segala macam kondisi yang ada.

    Pilihan yang ditawarkan pada Joy hanyalah menandatangani surat bangkrut perusahaan yang akan menyelamatkanya dari berbagai tuntutan hukum. Joy berusaha untuk mempelajari semua bekas perusahaanya dan ia akhirnya menemukan data relasi pabrik yang menghubungkan pabrik tersebut dengan investornya di Hongkong.

    Joy mengancam pabrik tersebut dengan ancaman akan melaporkan segala tindak kecurangan dan investasi palsu yang dijalankan oleh pabrik tersebut pada investor sehingga investor pabrik akan menghentikan asupan dana dan investasinya. Joy meminta pabrik plastik tersebut untuk mengembalikan semua uangnya yang selama ini diminta dari joy diluar harga produksi dan memproduksi permintaan alat pel Joy dengan harga produksi yang normal.

    situasi konflik (frame) dalam konflik dapat dibagi kedalam dua frame yang berbeda yakni frame 1 dan frame 2. Frame 1 merupakan konflik yang terjadi antara Joy dan pabrik plastik konflik dimulai ketika Joy diminta untuk membayar hak paten atas kesamaan desain produk, konflik memuncak ketika Joy diminta untuk membayar tambahaan biaya produksi oleh pabrik plastik yang membuat Joy dihadapkan dengan kondisi harus menandatangani surat bangkrut perusahaannya, Joy yang tidak terima pada akhirnya melakukan ancaman pada pihak pabrik untuk mendapatkan kembali uanguang yang diminta oleh perusahaan diluar dari biaya produksi yang harus dibayarkan. Frame 2 adalah konflik yang terjadi antara Joy dan perusahaan QVC dimana pihak Joy diminta untuk tetap menjadi teman dan partner bisnis ketika Joy mendapatkan kesuksesan dengan produknya sebagai syarat dari pihak QVC pun mau membantu Joy untuk memasarkan produknya.

    Selengkapnya analisis drama theory diĀ BUILD UP

    Leave a Reply